Persaudaraan dalam Perspektif Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto, Pilar Peradaban dan Jalan Pembebasan Umat
Author
Ardinal Bandaro Putiah
(Tokoh Pergerakan Sumatera Barat)
Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto menjadi salah satu pilar terpenting yang memadukan Islam, nasionalisme, dan sosialisme dalam satu semangat perjuangan. Sebagai pemimpin Sarekat Islam dan guru dari tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Semaoen, Tan Malaka, dan Kartosuwiryo, Tjokroaminoto bukan hanya meletakkan dasar-dasar ideologi pembebasan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang kokoh. Di antara nilai-nilai tersebut, persaudaraan (ukhuwah) menempati posisi sentral dalam keseluruhan bangunan pemikiran dan praksis perjuangan Tjokroaminoto.
I. Tjokroaminoto dan Islam sebagai Jalan Pembebasan
Sebelum membahas lebih jauh soal persaudaraan, penting untuk memahami bagaimana Tjokroaminoto memandang Islam secara keseluruhan. Dalam berbagai pidato, tulisan, dan tindakan politiknya, Tjokro menjadikan Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang menyeluruh, yang mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Bagi Tjokroaminoto, Islam adalah agama tauhid yang memerdekakan manusia dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Tauhid ini menjadi kekuatan utama dalam membebaskan manusia dari penjajahan, kesenjangan sosial, eksploitasi ekonomi, dan pembodohan politik.
Dengan dasar ini, persaudaraan dalam Islam bukan sekadar pilihan moral, tetapi konsekuensi logis dari iman kepada Allah Yang Maha Esa. Persaudaraan adalah manifestasi dari tauhid dalam ranah sosial.
“Jikalau kita mengaku Tuhan itu Esa, maka tidak bisa kita menerima manusia lain diperlakukan sebagai tuan atas manusia lain.” (H.O.S. Tjokroaminoto)
II. Tiga Pilar Persaudaraan: Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah
Dalam kerangka pemikiran Tjokroaminoto, persaudaraan terbagi dalam tiga dimensi utama, yang semuanya saling berkaitan dan membentuk bangunan kokoh dari masyarakat Islam dan bangsa merdeka:
1. Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Sesama Muslim)
Ini adalah bentuk persaudaraan yang bersumber langsung dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Dalam pandangan Tjokroaminoto, ukhuwah Islamiyah bukan hanya sikap kasih sayang terhadap sesama Muslim, tetapi juga kewajiban untuk membangun solidaritas sosial, ekonomi, dan politik di antara umat Islam. Maka dari itu, Sarekat Islam tidak hanya menjadi organisasi dagang atau sosial, tapi juga alat untuk menyatukan dan menguatkan posisi umat Islam dalam menghadapi kolonialisme dan kapitalisme asing.
Tjokro melihat bahwa penjajahan berhasil menindas umat karena mereka tercerai-berai, tidak bersatu, dan saling melemahkan. Maka, kunci pertama perjuangan adalah membangun kesatuan umat.
“Kita mesti bersatu karena persatuan adalah kekuatan; umat Islam mesti kuat untuk bisa berdiri sendiri.”(H.O.S. Tjokroaminoto)
II. Tiga Pilar Persaudaraan: Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah
Dalam kerangka pemikiran Tjokroaminoto, persaudaraan terbagi dalam tiga dimensi utama, yang semuanya saling berkaitan dan membentuk bangunan kokoh dari masyarakat Islam dan bangsa merdeka:
1. Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Sesama Muslim)
Ini adalah bentuk persaudaraan yang bersumber langsung dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Dalam pandangan Tjokroaminoto, ukhuwah Islamiyah bukan hanya sikap kasih sayang terhadap sesama Muslim, tetapi juga kewajiban untuk membangun solidaritas sosial, ekonomi, dan politik di antara umat Islam. Maka dari itu, Sarekat Islam tidak hanya menjadi organisasi dagang atau sosial, tapi juga alat untuk menyatukan dan menguatkan posisi umat Islam dalam menghadapi kolonialisme dan kapitalisme asing.
Tjokro melihat bahwa penjajahan berhasil menindas umat karena mereka tercerai-berai, tidak bersatu, dan saling melemahkan. Maka, kunci pertama perjuangan adalah membangun kesatuan umat.
“Kita mesti bersatu karena persatuan adalah kekuatan; umat Islam mesti kuat untuk bisa berdiri sendiri.”(H.O.S. Tjokroaminoto).
2. Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Kebangsaan)
Tjokroaminoto adalah tokoh yang sangat awal mengedepankan kesadaran kebangsaan, jauh sebelum Indonesia sebagai negara terbentuk. Dalam surat kabarnya dan pidato-pidatonya, ia selalu menyerukan pentingnya persaudaraan antar suku, golongan, dan agama dalam satu bingkai kebangsaan.
Bagi Tjokro, persaudaraan kebangsaan bukanlah bentuk kompromi terhadap keislaman, melainkan perluasan nilai-nilai Islam ke dalam konteks kebhinekaan. Dengan mengedepankan ukhuwah wathaniyah, Tjokro menolak eksklusivisme sempit yang memecah umat Islam dari realitas sosial dan nasional yang lebih luas.
3. Ukhuwah Basyariyah (Persaudaraan Kemanusiaan)
Dimensi ketiga ini sangat penting dalam membedakan Tjokroaminoto dari tokoh Islam eksklusif lainnya. Tjokro percaya bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), dan karena itu, persaudaraan kemanusiaan harus menjadi prinsip dasar dalam hubungan umat Islam dengan umat lainnya.
Ia mengkritik kolonialisme bukan hanya karena ia menindas Islam, tetapi karena kolonialisme adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal. Tjokro dengan lantang menyerukan pembelaan terhadap rakyat kecil, petani, buruh, dan rakyat pribumi secara keseluruhan—apapun agamanya.
III. Sarekat Islam, Institusi Persaudaraan Sosial
Salah satu manifestasi nyata dari gagasan persaudaraan Tjokroaminoto adalah pendirian dan pengembangan Sarekat Islam (SI). Organisasi ini sejak awal bukan sekadar partai politik atau asosiasi pedagang, tetapi wadah perjuangan kolektif untuk membebaskan rakyat dari ketidakadilan kolonial.
Dalam SI, Tjokro menciptakan ruang di mana umat Islam dari berbagai latar belakang bisa bersatu, saling bantu, dan mendidik diri secara politik dan ekonomi. Ia mendorong koperasi, pengajian, sekolah, dan penerbitan sebagai sarana membangun solidaritas dan kesadaran bersama.
SI menjadi alat utama membangun “persaudaraan kaum tertindas” yang bukan sekadar emosional, tetapi strategis dan terorganisir.
IV. Retorika Persaudaraan: “Berbicaralah Seperti Orator, Menulislah Seperti Wartawan”
Salah satu ajaran Tjokro yang paling sering dikutip adalah:
“Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.”
Namun kutipan ini tidak boleh dipahami secara teknis semata. Di balik perintah itu, ada makna mendalam tentang membangun komunikasi yang mempersatukan. Persaudaraan tidak akan lahir jika tidak ada ruang dialog, narasi bersama, dan bahasa yang memanusiakan.
Tjokro memahami bahwa persaudaraan butuh narasi, butuh suara, dan butuh keberanian menyampaikan kebenaran secara meyakinkan. Oleh karena itu, ia membentuk sekolah-sekolah kader, menerbitkan surat kabar, dan membina kemampuan retorika para muridnya sebagai alat perjuangan persaudaraan.
V. Persaudaraan sebagai Jalan Revolusi Sosial
Tjokroaminoto tidak hanya bicara persaudaraan dalam ranah idealisme, tetapi menurunkannya ke dalam praksis sosial yang konkret. Ia berbicara tentang:
a. Keadilan ekonomi sebagai wujud dari solidaritas umat
b. Pemerintahan yang adil sebagai bentuk kasih sayang kepada sesama manusia
c. Pendidikan sebagai cara menyatukan pikiran rakyat
d. Pembelaan terhadap hak buruh dan petani sebagai tanggung jawab moral sesama manusia
Bagi Tjokro, persaudaraan adalah fondasi dari revolusi sosial. Tanpa persaudaraan, rakyat mudah dipecah belah dan dijadikan alat penjajahan baru. Dengan persaudaraan, rakyat menjadi satu tubuh, satu gerakan, dan satu tekad.
VI. Persaudaraan dan Tauhid Sosial
Konsep “Tauhid Sosial” yang dikembangkan oleh para pengikut Tjokro seperti Bung Karno atau Haji Agus Salim sesungguhnya adalah perpanjangan dari semangat persaudaraan tauhidi yang diajarkan Tjokro. Dalam tauhid sosial, manusia dilihat sebagai makhluk merdeka yang tidak boleh ditindas, karena semua berasal dari Tuhan Yang Satu.
Dengan demikian, setiap bentuk penindasan, diskriminasi, eksploitasi, atau rasisme adalah pengkhianatan terhadap tauhid. Maka tugas utama umat Islam adalah membangun masyarakat yang adil, egaliter, dan penuh kasih.
VII. Relevansi Gagasan Persaudaraan Tjokroaminoto Hari Ini
Apa yang diajarkan Tjokroaminoto tentang persaudaraan menjadi sangat relevan dalam konteks Indonesia hari ini, di mana:
1. Polarisasi politik semakin tajam
2. Umat Islam terpecah oleh kepentingan politik sesaat
3. Perbedaan suku, agama, dan ideologi sering dijadikan alat konflik
4. Solidaritas sosial melemah dalam masyarakat konsumtif dan individualistik
Dalam situasi seperti ini, gagasan persaudaraan ala Tjokroaminoto menjadi oase peradaban dan cahaya jalan pembebasan baru. Kita perlu kembali menanamkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah, bukan sebagai slogan, tapi sebagai ideologi perjuangan yang membentuk pola pikir, sikap, dan tindakan.
Membumikan Kembali Persaudaraan sebagai Gerakan
H.O.S. Tjokroaminoto telah menunjukkan bahwa persaudaraan bukan sekadar ajaran agama, tetapi strategi perjuangan. Ia membuktikan bahwa umat Islam bisa menjadi kekuatan besar jika bersatu dalam cinta, iman, dan visi keadilan.
Kini tugas kita bukan hanya mengenang, tetapi membumikan kembali semangat itu dalam kehidupan nyata. Dalam organisasi, persaudaraan harus menjadi fondasi. Dalam politik, persaudaraan harus mengalahkan ego dan ambisi. Dalam ekonomi, persaudaraan harus melahirkan koperasi dan solidaritas. Dan dalam kehidupan sosial, persaudaraan harus menghidupkan kasih, keadilan, dan saling percaya.
Wallahu'alam.
Agam (Pondok Syarikat), 05 Juli 2025