Setiap manusia pada dasarnya memiliki hasrat dan keinginan untuk berkuasa. Hasrat tersebut hadir baik pada kaum proletar maupun golongan borjuasi. Paling tidak, keinginan itu termanifestasi dalam upaya membebaskan diri dari berbagai belenggu, baik berupa penjajahan, diberikan oleh sesama manusia, maupun tekanan keadaan sosial yang membatasi ruang gerak dan kebebasan mereka.
Ketika berbicara tentang kekuasaan, kita tidak bisa melepaskannya dari faktor peluang dan kondisi. Dalam struktur sosial, kaum borjuasi umumnya memiliki peluang yang lebih besar untuk melanggengkan kekuasaan, sementara kaum proletar memiliki peluang yang lebih kecil untuk berkuasa, terutama dalam skala besar. Namun, dalam tulisan ini, pengertian proletar dan borjuasi tidak sepenuhnya mengikuti definisi klasik yang lazim digunakan para filsafat.
Proletar dalam konteks ini dimaknai sebagai manusia-manusia dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, yakni mereka yang hidup dalam zona nyaman, minim perhitungan rasional, serta tidak memiliki hasrat yang kuat untuk berkembang dan menatap masa depan secara progresif. Mereka bisa saja mengenyam pendidikan formal maupun informal, tetapi pendidikan tersebut tidak mengubah kesadaran menjadi kritis. Sebaliknya, borjuasi dipahami sebagai kelompok manusia yang terdidik, berpengetahuan, tidak bersifat awam, bukan semata-mata karena kekayaan materi, melainkan karena kapasitas intelektual yang dimilikinya.
Definisi ini memang berbeda dari pengertian umum. Dalam perspektif klasik, khususnya dalam pemikiran Karl Marx, borjuasi sering diidentikkan dengan kepemilikan alat produksi dan kekayaan materi, sementara proletar dipahami sebagai kelas pekerja yang tidak memiliki modal dan hidup dalam kemiskinan struktural. Namun, kenyataan sosial modern menunjukkan bahwa pembagian tersebut tidak selalu relevan secara mutlak.
Pada dasarnya, borjuasi tidak semata-mata berbicara tentang harta benda, melainkan tentang kapasitas keilmuan dan kekuatan pengetahuan yang memungkinkan seseorang atau kelompok menghegemoni massa. Kekuasaan hari ini tidak hanya ditentukan oleh kekayaan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menguasai wacana, nilai, dan cara berpikir masyarakat.
Sebagai contoh sederhana, kita dapat melihat sosok Nabi Muhammad SAW. Beliau bukanlah orang kaya raya pada masanya, namun dengan nilai, karakter, dan kedalaman pemikirannya, beliau mampu memimpin dan mempengaruhi umat dalam jumlah yang sangat besar. Kekuasaan beliau tidak bertumpu pada materi, melainkan pada otoritas moral dan intelektual.
Hal yang sama juga dapat kita temukan pada tokoh-tokoh pemikir dunia seperti Karl Marx, Antonio Gramsci, dan Paulo Freire. Dalam perjalanan hidupnya, mereka tidak hidup dalam kemewahan; bahkan sebagian besar kehidupan di dalam dokumentasi, dokumentasi, dan penjara. Namun demikian, pemikiran dan konsepsi yang mereka lahirkan memiliki pengaruh yang sangat besar dan terus digunakan oleh kaum intelektual hingga era modern. Hegemoni mereka bukan hegemoni ekonomi, melainkan hegemoni ide.
Sebaliknya, kaum proletar tidak selalu identik dengan kemiskinan materi. Seseorang bisa saja memiliki kekayaan berlimpah, namun tetap tergolong proletar dalam arti kapasitas berpikir yang rendah dan mandiri pada konsepsi orang lain. Tidak sedikit manusia kaya di era modern yang menjalani kehidupan berdasarkan nilai dan konsep yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh besar, termasuk Nabi Muhammad SAW, bahkan oleh mereka yang tidak menganut agama Islam. Hal ini ditegaskan pula oleh Michael H. Hart yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan sejati tidak selalu lahir dari kepemilikan materi, melainkan dari penguasaan pengetahuan dan kemampuan yang mempengaruhi cara berpikir manusia. Oleh karena itu, konsep borjuasi dan proletariat perlu dibaca ulang secara lebih kritis dan kontekstual. Di era modern, siapa pun yang memiliki kapasitas intelektual, kesadaran kritis, dan kemampuan mengelola pengetahuan, dialah yang sesungguhnya memegang kendali atas peradaban.
Author: Muhammad Ali Serami Baru (Direktur Arsip Literasi Ilmiah)