Oleh: Muhammad Ali Serami Baru
Organisasi adalah alat perjuangan. Ia bukan tempat mencari nama, bukan panggung bagi orang-orang yang ingin eksis. Namun dalam kenyataannya saat ini, terlalu banyak organisasi yang terjebak dalam perdebatan tanpa makna. Agenda penuh, namun tanpa orientasi yang jelas. Penuh tokoh, tapi miskin gerakan. Stagnasi organisasi tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang yang menyambungkan budaya di dalam tubuhnya sendiri. Sayangnya, banyak dari kita hanya menjadi saksi pasif, atau lebih buruk lagi: ikut serta dan menerima keadaan.
Panggung Jadi Tujuan, Bukan Alat
Fenomena kader-kader yang sibuk mencari sorotan menjadi pemandangan yang tak asing. Setiap agenda organisasi dijadikan momen branding diri. Bukan soal seberapa besar kontribusinya terhadap tujuan organisasi, tetapi seberapa sering wajah mereka muncul di layar proyektor atau media sosial. Eksistensi menjadi "tuhan" baru, dan organisasi menjadi kendaraannya. Fenomena ini sejalan dengan analisis Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed , bahwa kekuasaan yang tidak dikritisi akan membentuk pola baru, bahkan di ruang-ruang perjuangan sendiri (Freire, 1970). Ketika panggung menjadi tujuan, maka lahirlah perebutan posisi, bukan penguatan fungsi. Organisasi pun mandek karena seluruh energinya habis untuk konflik internal yang dangkal.
Dialektika Kosong dan Intelektualisme Palsu
Diskusi menjadi formalitas. Dialektika dijadikan alat untuk menjatuhkan, bukan menyelesaikan. Tidak ada iklim belajar, yang ada hanyalah memuat panjang tanpa orientasi aksi. Semuanya ingin bicara, tak ada yang ingin mendengar. Michel Foucault pernah mengingatkan dalam Power/Knowledge bahwa wacana adalah bentuk kekuasaan mereka yang menguasai bahasa, menguasai ruang pengaruh (Foucault, 1980). Maka tak heran, banyak yang mengejar kekuasaan melalui retorika, bukan melalui kerja konkret. Padahal, organisasi membutuhkan pemikir-aktor, bukan orator-palsu.
Disiplin Longgar, Kapasitas Lemah
Bagaimana organisasi bisa maju jika kadernya tidak dilatih? Kedisiplinan dianggap sebagai beban, bukan etika perjuangan. Kaderisasi tidak lagi menjadi proses pembentukan watak dan kapasitas, melainkan hanya sekedar formalitas administrasi. Banyak yang melangkah ke jenjang struktural tanpa pernah benar-benar menguasai landasan ideologi dan teknis gerakan. Antonio Gramsci menekankan pentingnya peran organisasi intelektual organik dalam membangun kesadaran kolektif (Gramsci, 1971). Tanpa pengembangan kapasitas kader, organisasi akan gagal menciptakan blok historis yakni, gerakan yang mampu mengubah kenyataan secara konkret.
Senioritas yang Menjadi Alat Represi
Satu masalah serius adalah budaya senioritas yang membunuh kebebasan berpikir. Alih-alih membimbing, para senior sering kali justru menjadi penghalang. Inisiatif baru, keberanian yang dikekang, dan inovasi dianggap pembangkangan. Organisasi akhirnya berjalan di tempat karena selalu dipaksa mengikuti pakem lama yang tak lagi relevan. Hal serupa diingatkan oleh Hannah Arendt dalam The Human Condition , “tradisi yang terlalu dipertahankan bisa menjadi penjara, yang menghidupkan tindakan dan kebaruan” (Arendt, 1958). Organisasi butuh napas baru, bukan hanya dari kader muda, tapi dari semangat kolektif untuk terus berkembang.
Saatnya Bergerak, Bukan Menonton
Organisasi kita sedang sakit. Bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena krisis budaya internal: egoisme, antikritik, represi berpikir, dan kemandekan kaderisasi. Jika kita tidak berani memecahkannya, stagnasi akan terus menjadi warisan. Kita butuh keberanian, bukan basa-basi. Butuh pembaruan, bukan pelestarian pola usang. Dan ini bukan semata-mata tanggung jawab pemimpin. Ini tanggung jawab kita semua yang masih percaya bahwa organisasi adalah alat perjuangan, bukan kendaraan ambisi.
“Tidak ada yang lebih revolusioner daripada keberanian untuk berpikir berbeda.”— Frantz Fanon