Kalender Hijriah Tunggal Global: Menuju Kesatuan Umat Islam Sedunia


Satu Bulan, Satu Umat: Urgensi Kalender Hijriah Tunggal Global

Penulis : Prof. Dr. Ismail Novel M.Ag

(Guru Besar UIN Sjech Djamil Djambek Bukittinggi)

Jika dunia bisa sepakat pada satu kalender Masehi, mengapa umat Islam belum bisa bersatu dalam satu kalender Hijriah? Bukankah kita semua memandang bulan yang sama, menjejak bumi yang satu, dan menghadap kiblat yang sama?

Wacana Kalender Hijriah Tunggal Global (KHTG) bukan sekedar obsesi teknokratis atau mimpi para astronom Muslim. Ia adalah ikhtiar serius untuk memulihkan marwah persatuan umat. Sudah terlalu lama kita menyaksikan perpecahan seremonial setiap kali Ramadhan dan Idul Fitri tiba. Di satu negeri sudah bertakbir, di negeri tetangga masih menunggu rukyat. Di belahan dunia lain, umat berpuasa duluan, sementara di tempat lain baru bersiap sahur.

Di manakah esensi wajah persatuan Islam itu? Apakah kalender pun harus menjadi medan yang berbeda?

Globalisasi Rukyat dan Hisab

Dahulu, saat Nabi Muhammad SAW bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

yang dimaksud adalah konteks lokalitas Madinah—di mana komunikasi lintas wilayah belum memungkinkan. Kini, dunia telah berubah. Rukyat tak lagi bersifat lokal. Dengan teleskop canggih yang diketahui, pengamatan hilal di Maroko dapat dihitung dalam hitungan detik oleh umat Islam di Indonesia. Dengan software hisab modern, posisi bulan dapat diketahui secara presisi hingga detik dan derajatnya.

Teknologi telah menjadikan dunia ini seperti kampung kecil ( desa kecil ), kata Marshal McLuhan. Dan umat Islam seharusnya memanfaatkan momen ini untuk melampaui sekat-sekat administratif, demi satu waktu dan satu kalender—seperti yang telah lama dilakukan oleh umat non-Muslim melalui kalender Masehi.

Dalil Aqli dan Naqli

Secara logika, sulit dibantah bahwa umat Islam layak memiliki kalender global. Bukankah bumi ini satu, bulan satu, dan Allah pun satu? Lalu kenapa kalender kita terpecah-pecah?

Tapi logikanya saja belum cukup. Al-Qur'an juga dengan tegas menyatakan pentingnya sistem waktu yang universal:

 كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۚ
"terhitung total bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi..."
(QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini adalah deklarasi langit tentang kalender Islam: 12 bulan, tetap, dan berlaku sejak penciptaan langit dan bumi.

Lalu dalam surah lain:

 وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (fase-fase) bagi bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu…”
(QS. Yunus: 5)

Ayat ini tidak hanya menunjuk pada sistem waktu berbasis bulan, tetapi juga membuka pintu bagi metode hisab—perhitungan ilmiah—sebagai bentuk ijtihad modern.

Kalender dan Peradaban

Kalender bukan sekedar urusan waktu. Ia adalah simbol peradaban. Ia menentukan ritme ibadah, manajemen sosial, perencanaan ekonomi, hingga strategi diplomasi antarnegara umat Islam. Kalender yang tercerai-berai adalah cermin dari peradaban yang belum selesai menyatukan dirinya sendiri.

Dunia Islam hari ini tidak hanya memerlukan satu arah kiblat, tapi juga satu waktu bersama. Dan tidak ada cara yang lebih simbolis untuk memulai penyatuan itu selain dari hal mendasar: kalender.

Maka pertanyaannya kini tidak mampukah kita membuat kalender tunggal, tapi maukah kita bersatu?

Post a Comment

Previous Post Next Post