Mahasiswa dan Tanggung Jawab yang Terlupakan


Mahasiswa dan Tanggung Jawab yang Terlupakan

Oleh: Muhammad Ali Serami Baru

Mahasiswa dikenal sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Tiga elemen ini menjadi jati diri dari para aktivis mahasiswa. Namun, aktivis mahasiswa hari ini tampaknya telah keluar dari koridor yang telah dimandatkan di pundak mereka—yakni sebagai agen perubahan bagi masyarakat, sebagai kaum yang mampu mengawasi kinerja dan kebijakan pemerintah, serta sebagai anak muda yang menjadi penerus bangsa.


Sayang beribu sayang, para aktivis menafsirkan tiga elemen di atas hanya sebatas demonstrasi yang sorak-sorai di jalanan. Kata mereka, "inilah yang kami lakukan untuk perubahan." Faktanya, mereka tidak menghasilkan kinerja produktif apa pun. Kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan masih terdengar di sudut-sudut kota dan daerah-daerah marginal. Kesusahan masyarakat masih lirih terdengar di telinga, air mata mereka masih mengalir dengan dilema panjang, hati mereka hanyut dalam keputusasaan, dan perut mereka masih kosong dengan penuh harapan akan esok pagi.

Padahal, pergulatan pemikiran, ide, dan gagasan menjadi santapan harian para aktivis, sehingga mereka lupa waktu. Namun, semua itu hanya sebatas berada di meja dialektika dan tidak menjelma sebagai manifestasi nyata demi kesejahteraan rakyat. Sebenarnya, banyak hal yang bisa diperbuat oleh para aktivis mahasiswa jika mereka benar-benar berpikir untuk bangsa ini.

Mensuport Kegiatan Masyarakat

Mendukung kegiatan masyarakat merupakan bentuk kepekaan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Dengan kepedulian itu, terbentuklah embrio landasan bagi mereka untuk bertindak. Menciptakan ide dan gagasan baru untuk diimplementasikan kepada masyarakat memang terasa besar dan berat. Namun, setidaknya mereka mampu dan mau bertindak untuk mensuport atau merevitalisasi kegiatan masyarakat yang telah ada.

Sering kita saksikan bersama, banyak kegiatan dalam masyarakat yang stagnan dan tidak dikelola secara produktif. Fenomena ini seharusnya menjadi ladang pengabdian bagi para aktivis—turun tangan dengan segala perbekalan pengetahuan yang mereka miliki selama kuliah. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Mereka hanya memamerkan merek jaket dan cerita popularitasnya saat hidup bersama masyarakat.

Kegiatan Produktif yang Ditunggu Masyarakat

Banyak pekerjaan rumah bagi bangsa ini, salah satunya masalah literasi. Indonesia adalah negara dengan minat baca yang jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Literasi sangat penting bagi peradaban bangsa, karena negara ini lahir dari rahim manusia-manusia kutu buku dan haus ilmu pengetahuan. Sebut saja Bung Hatta, Buya Hamka, Syahrir, Tan Malaka, Djokroaminoto (guru bangsa), dan lainnya. Mereka adalah sosok berilmu sekaligus peduli terhadap negeri dan lingkungan sosialnya.

Fakta sejarah ini seharusnya menjadi refleksi. Saatnya para aktivisme turun gunung untuk membenahi masalah ini. Mungkin mereka tidak mampu memberantas rendahnya literasi secara global, namun mereka bisa memulainya dari lingkungan terdekat. Sayangnya, mereka tidak berpikir sampai ke sana karena terlena dengan popularitas aksi demonstran yang hanya gila panggung.

Kapasitas yang Diragukan

Sorak-sorai ke sana kemari seolah mereka adalah makhluk Tuhan yang menjadi pembela masyarakat dengan berbagai "kajian". Padahal, sering kali kajian itu tak lebih dari stimulus yang lahir dari kepentingan pihak-pihak yang melempar batu lalu sembunyi tangan. Dengan kapasitas yang lemah, mereka sangat mudah terhegemoni oleh retorika dan doktrinisme dari pemilik kepentingan yang tak bertanggung jawab.

Seharusnya, mereka membangun gerakan berdasarkan idealisme, yang berpijak pada ideologi perjuangan masing-masing. Namun pertanyaannya: apakah mereka benar-benar menguasai ideologi mereka? Atau bahkan tidak tahu apa landasan perjuangan mereka?

Hal ini hanya bisa dijawab oleh mereka sendiri.

"Pemikiran dan gagasan merupakan ruh, sedangkan tindakan adalah jasadnya. Dengan demikian, apabila telah bersatu ruh dengan jasad, maka menjadilah manusia yang seutuhnya."
Muhammad Ali


Post a Comment

Previous Post Next Post