Pemikiran Hasan As-Saqqaf tentang Hadis
Hasan As-Saqqaf merupakan salah satu tokoh sarjana Muslim kontemporer yang cukup vokal dalam menentukan metode penilaian hadis, khususnya metode yang dikembangkan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran As-Saqqaf tentang hadis menjadi penting untuk dikaji karena ia tidak hanya memberikan komentar terhadap satu-dua hadis, tetapi menyusun sebuah karya khusus yang membahas secara kritis metodologi al-Albani dalam menilai validitas hadis. Buku tersebut berjudul Tanaqudhāt al-Albānī al-Wādihah (Kontradiksi Al-Albani yang Jelas), yang terdiri atas dua jilid dan memuat ratusan hadis yang dianggap bermasalah oleh As-Saqqaf.
Latar Belakang dan Posisi Ilmiah As-Saqqaf
Berbeda dengan al-Albani yang belajar hadis secara otodidak, As-Saqqaf memperoleh pengakuan formal dalam bidang hadis dari para ulama otoritatif, seperti Prof. Dr. Syaikh Abdullah Muhammad al-Ghumari, seorang ulama hadis besar di Universitas al-Azhar, Kairo. Hal ini memberi landasan otoritatif bagi As-Saqqaf dalam melakukan kritik terhadap metodologi al-Albani.
As-Saqqaf melihat bahwa al-Albani banyak kali berdoa inkonsisten dalam menentukan status suatu hadis. Dalam buku Tanaqudhāt , As-Saqqaf mengidentifikasi sekitar 250 hadis dalam jilid pertama dan 650 hadis dalam jilid kedua yang menurutnya menunjukkan konsistensi dalam metode dan keputusan al-Albani.
Perbandingan Metodologi As-Saqqaf dan Al-Albani
Secara metodologis, baik As-Saqqaf maupun al-Albani tekanan pentingnya tidak ( rantai periwayatan) dalam menilai kualitas hadis. Mereka juga menggunakan komentar para ulama terdahulu dalam menilai perawi. Namun, titik perbedaan muncul pada cara masing-masing menilai kualitas perawi dan penerimaan terhadap hadis-hadis yang diriwayatkan dengan 'an'anah (penggunaan kata “'an” dalam sanad).
As-Saqqaf sangat kritis terhadap perawi yang dikenal sebagai mudallis , yaitu perawi yang bersembunyi atau tidak menjelaskan dengan jelas dari siapa ia menerima hadis. Dalam hal ini, ia Merujuk pada klasifikasi Ibnu Hajar al-Asqalani yang memasukkan Qatadah bin Di'amah dan Hasan al-Basri ke dalam daftar perawi mudallis . Oleh karena itu, As-Saqqaf menolak hadis yang diriwayatkan oleh mereka jika menggunakan pola 'an'anah , karena menurutnya hal tersebut membuka kemungkinan tidak adanya hubungan langsung antara perawi dengan gurunya.
Contoh Kasus: Hadis tentang Etika Menyebut Nama Allah
Salah satu contoh konkret yang dikritik As-Saqqaf adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Muhajir bin Qunfudz, di mana Rasulullah ﷺ tidak menjawab salam karena sedang buang air dan menjelaskan bahwa dia enggan menyebut nama Allah dalam keadaan tidak suci. Al-Albani menilai hadis ini sebagai sahih, sedangkan As-Saqqaf menolaknya dengan alasan hadis tersebut diriwayatkan melalui Qatadah dan Hasan al-Basri dengan pola 'an'anah . Karena keduanya termasuk mudallis versi Ibnu Hajar, maka menurut As-Saqqaf hadis ini tidak layak dinyatakan sahih.
Inkonsistensi dalam Pendekatan As-Saqqaf
Namun, pendekatan As-Saqqaf sendiri tidak luput dari kritik. Di satu sisi, ia menerima hadis-hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim sebagai hadis-hadis sahih yang tidak diragukan lagi. Di sisi lain, ia justru menolak sebagian hadis yang terdapat dalam kedua kitab tersebut ketika menemukan adanya perawi mudallis dalam sanadnya. Contohnya, Hasan al-Basri memeriwayatkan 31 hadis dalam Shahih Bukhari dan 12 dalam Shahih Muslim, dan sebagian besar dari hadis tersebut menggunakan pola 'an'anah . Jika As-Saqqaf konsisten dengan kriterianya, maka seharusnya ia juga menolak hadis-hadis tersebut—yang tentu saja berkonsekuensi besar terhadap kedudukan kedua kitab tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan oleh As-Saqqaf dalam menilai hadis cenderung tidak konsisten. Ia tampak terlalu memahami satu pendapat ulama (Ibnu Hajar) tanpa memperhatikan pendapat ulama hadis lainnya yang mungkin memiliki justifikasi berbeda terkait status perawi mudallis . Dalam kajian hadis, banyak ulama yang tetap menerima periwayatan dari perawi mudallis jika tidak ada indikasi adanya pemalsuan atau jika hadisnya diperkuat oleh aliran lain.
Kesimpulan
Pemikiran As-Saqqaf dalam menilai hadis menunjukkan ketelitian dan keberaniannya dalam mendominasi otoritas lain seperti al-Albani. Namun demikian, pendekatannya dinilai belum sepenuhnya komprehensif dan konsisten. Ketergantungannya pada satu sumber otoritatif dalam menilai mudallis membuat metode kritiknya kurang kuat untuk dijadikan standar ilmiah universal dalam ilmu hadis. Permasalahan logistik dari metode tersebut pun sulit untuk dijalankan secara konsisten, terutama jika dihadapkan dengan hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Bibliografi
-
As-Saqqaf, Hasan. Tanaqudhāt al-Albānī al-Wādihah . Beirut: Dar al-Imam an-Nawawi, 1993.
-
Al-Albani, Muhammad Nasiruddin. Silsilah al-Ahadits as-Sahihah . Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 1985.
-
Ibnu Hajar al-Asqalani. Tabaqat al-Mudallisin . Kairo: Maktabah al-Khanji, 1983.
-
Azami, Muhammad Mustafa. Kajian Metodologi dan Sastra Hadis . Indianapolis: American Trust Publications, 1977.
-
Brown, Jonathan AC Hadis: Warisan Muhammad di Dunia Abad Pertengahan dan Modern . Oxford: Oneworld Publications, 2009.
-
Siddiqi, Muhammad Zubayr. Literatur Hadis: Asal Usul, Perkembangan, dan Ciri-Ciri Khususnya . Cambridge: Islamic Texts Society, 1993.