‘IJAZ Al-QUR’AN(KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN); PENGERTIAN, MACAM( LUGAHWI, TASYRI’,ILMI DAN BERITA GHAIB)


Pendahuluan

Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Imam Jalaluddin al-Suyuthi mendefinisikan Al-Qur'an sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagai tantangan bagi manusia, dan jika dibaca menjadi ibadah. Meski diturunkan dalam bahasa Arab, bukan berarti semua orang Arab mampu memahami keseluruhan kandungannya secara mendalam. Keindahan dan kekuatan maknanya terbukti tak tertandingi oleh siapa pun, baik pada masa Rasulullah ﷺ maupun hingga kini. Bahkan para sastrawan Arab terkenal saat itu pun gagal menyaingi retorika Al-Qur'an meskipun memiliki kemampuan sastra yang tinggi. Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah produk manusia, melainkan wahyu ilahi yang penuh mukjizat dan nilai-nilai universal yang relevan sepanjang zaman.



Pengertian 'I'jaz Al-Qur'an

Secara etimologis, kata “'i'jaz” berasal dari kata kerja “'ajaza” yang berarti lemah atau tidak mampu. Dalam konteks Al-Qur'an, 'i'jaz berarti ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur'an dalam bentuk, isi, maupun makna. Sedangkan menurut istilah, 'i'jaz Al-Qur'an merupakan ilmu yang membahas tentang berbagai aspek keistimewaan Al-Qur'an yang tidak mungkin ditiru oleh manusia, termasuk dalam bahasa, hukum, ilmu pengetahuan, dan kabar ghaib.

Al-Qur'an sendiri adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril, menjadi pedoman hidup, serta ibadah ketika dibaca dan diamalkan. Empat ciri utama dari 'i'jaz adalah: (1) bersifat luar biasa, (2) terjadi melalui perantaraan nabi, (3) sebagai bukti kebenaran kenabian, dan (4) tidak dapat ditandingi manusia (Junaidi, 2009).

Macam-Macam 'I'jaz Al-Qur'an

1. 'I'jaz Lughawi (Bahasa)

Al-Qur'an dikenal karena keindahan dan kekuatan bahasanya yang luar biasa. Meski bangsa Arab saat itu dikenal unggul dalam bidang sastra dan syair, mereka tidak mampu menjelaskan gaya bahasa Al-Qur'an. Bahkan para penyair hebat seperti al-Walid bin al-Mughirah mengakui keagungan bahasa Al-Qur'an. Quraisy Syihab menjelaskan bahwa harmoni fonetik dalam Al-Qur'an sangat memikat, bahkan menyentuh hati pendengarnya—menciptakan kesan estetika dan spiritual yang mendalam.

Misalnya saja dalam QS. An-Nisa' ayat 1, Allah menyeru seluruh manusia untuk bertakwa, menjaga hubungan silaturahmi, dan menyadari bahwa mereka berasal dari satu jiwa. Pengungkapan ini tidak hanya sekedar menyampaikan pesan spiritual, tetapi juga menampilkan struktur bahasa yang memukau, penuh harmoni dan kedalaman makna.

2. 'I'jaz Tasyri' (Hukum)

Kemukjizatan Al-Qur'an juga terlihat dalam sisi tasyri' atau hukum. Al-Qur’an membentuk tatanan hukum yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga sesama manusia secara adil dan bijaksana. Hukum-hukum seperti larangan mencuri, berzina, minum khamr, dan sebagainya mengandung hikmah yang menjamin keselamatan lahir dan batin.

Misalnya QS. Al-Anfal ayat 1 mengatur pembagian harta rampasan perang secara bijak untuk menghindari konflik antarkomunitas. Dalam bidang legislasi, sistem hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur'an mengalahkan berbagai ideologi manusia lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an bukan berasal dari manusia, melainkan dari Zat Yang Maha Tahu, seperti ditegaskan oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Rasyid Ridha dan Yusuf al-Qaradawi.

3. 'I'jaz 'Ilmi (Ilmiah)

Aspek ilmiah Al-Qur'an menjadi salah satu topik yang menarik dalam beberapa dekade terakhir. 'I'jaz 'ilmi Merujuk pada keselarasan Al-Qur'an dengan temuan ilmiah modern. Al-Qur'an membahas berbagai fenomena alam, proses penciptaan manusia, perkembangan embrio, bahkan hukum gravitasi dan rotasi bumi—semuanya jauh sebelum ilmu pengetahuan modern mengungkapkannya.

Dalam QS. Al-Hajj ayat 5, dijelaskan proses perkembangan manusia dari tanah, mani, segumpal darah, hingga menjadi bayi, dewasa, lalu wafat. Semua ini dijelaskan sebelum adanya pengetahuan embriologi. Syekh Abdul Majid al-Zindani dan ilmuwan lain menyatakan bahwa banyak ayat Al-Qur'an yang terbukti selaras dengan hasil eksperimen ilmiah, padahal belum terjangkau oleh akal manusia pada masa Nabi Muhammad ﷺ.

4. 'I'jaz Ghaibi (Berita Ghaib)

Kemukjizatan Al-Qur'an juga terlihat dalam aspek ghaib, yaitu informasi tentang masa lalu yang tidak diketahui manusia, masa depan yang belum terjadi, dan hal-hal yang di luar jangkauan indera dan akal. QS. Al-Ankabut ayat 48 menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah ummi, tidak bisa membaca atau menulis, namun mampu membawa ajaran yang mengalahkan seluruh teori para filsuf.

Contoh konkret dari 'i'jaz ghaibi adalah prediksi kekalahan bangsa Romawi yang kemudian terbukti (QS. Ar-Rum), dan berita-berita masa depan seperti Hari Kiamat, surga, neraka, dan sebagainya. Semua ini mengukuhkan bahwa Al-Qur'an bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui.

Kesimpulan

'I'jaz Al-Qur'an mencerminkan kemukjizatan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia—baik dari sisi bahasa, hukum, sains, maupun kabar ghaib. Keempat dimensi tersebut tidak dapat ditandingi oleh siapa pun, baik pada zaman turunnya Al-Qur'an maupun era modern ini. Oleh karena itu, keberadaan Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi bukan hanya menjadi sumber petunjuk, tetapi juga bukti nyata akan keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Dengan merenungkan dan mengkaji kemukjizatan Al-Qur'an, keimanan seseorang akan semakin bertambah kuat dan yakin terhadap kebenaran Islam.

Daftar Pustaka

  1. Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an . Beirut: Dar al-Fikr, 2000.

  2. Syihab, M.Quraisy. Membumikan Al-Qur'an . Bandung: Mizan, 2007.

  3. Junaidi, M. Sabri. I'jaz Al-Qur'an: Kemukjizatan dari Perspektif Bahasa, Hukum dan Sains . Banda Aceh: Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, 2009.

  4. Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir Al-Manar . Mesir: Al-Manar, 1925.

  5. Yusuf al-Qaradawi. Kaifa Nata'amal ma'a al-Qur'an al-Karim . Kairo: Maktabah Wahbah, 1997.

  6. Zaini, Hasan. Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir . Surabaya: Pustaka Pelajar, 2011.

  7. Al Zindani, Abdul Majid. Mu'jizat al-Qur'an fi al-'Ilm . Jeddah: Maktabah al-Malik Fahd, 2003.

  8. Chaerudji Abdul Chalik. Al-Qur'an dan Sains . Jakarta: Gema Insani Pers, 2001.

  9. As-Samarqandy, Abu Laith. Tafsir al-Bahr al-'Ulum . Beirut: Dar al-Fikr, 1994.

Author: Muhammad Ali Serami Baru

Post a Comment

Previous Post Next Post