Salah satu indikator baik kualitas keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan hal ini melalui sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:
“Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan).
Hadis singkat ini mengandung prinsip besar dalam kehidupan seorang muslim. Ulama menjelaskan bahwa makna “meninggalkan yang tidak bermanfaat” bukan hanya terbatas pada urusan duniawi, tetapi juga mencakup segala sesuatu yang tidak bernilai bagi keselamatan agama, akhlak, dan kehidupannya. Dengan kata lain, kesempurnaan Islam seseorang terletak pada fokusnya pada hal-hal yang benar-benar memberi nilai, baik di dunia maupun di akhirat.
Keburukan kualitas Islam justru terlihat ketika seseorang menghabiskan waktunya untuk perkara sia-sia. Kesebukan dalam hal yang tidak mendatangkan manfaat akan melalaikan dari amal baik. Imam an-Nawawi menempatkan hadis ini dalam Arba'in an-Nawawiyyah karena kedudukannya yang sangat mendasar dalam adab dan etika Islami. Menurut beliau, hadis ini menjadi kaidah penting dalam pendidikan diri: menghindari kebatilan adalah jalan menuju kesempurnaan iman.
Dalam konteks kehidupan modern, relevansi hadis ini semakin jelas. Fenomena membuang waktu dalam aktivitas yang tidak produktif sangat mudah dijumpai. Sebagian besar orang menghabiskan berjam-jam untuk bermain gim atau menjelajahi media sosial tanpa arah yang jelas. Tidak sedikit pula yang larut dalam gosip, membicarakan aib orang lain yang bukan hanya tidak berguna, tetapi juga merusak kehormatan sesama. Bahkan, dalam hal berpakaian, sebagian muslimah memilih busana yang tampak tertutup namun masih menonjolkan lekuk tubuh, yang pada hakikatnya tidak bermanfaat dan dapat menimbulkan fitnah. Semua ini adalah contoh nyata dari perbuatan yang justru menjauhkan seorang Muslim dari kebaikan yang seharusnya diperjuangkan.
Hikmah dari hadis ini adalah dorongan agar umat Islam memiliki kesadaran kritis dalam mengelola waktu dan prioritas hidup. Waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat sebenarnya adalah kehilangan yang besar, karena waktu tidak dapat terulang. Sebaliknya, ketika seorang Muslim memusatkan dirinya pada hal-hal yang bermanfaat—seperti ibadah, menuntut ilmu, bekerja dengan jujur, dan membantu sesama—maka kehidupannya akan lebih bernilai, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT.
Dengan demikian, meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bukan sekedar sikap moral, melainkan indikator keimanan yang sejati. Semakin mampu seseorang menahan diri dari hal-hal sia-sia, semakin baik pula kualitas Islamnya. Inilah pesan besar Rasulullah SAW yang perlu direnungkan dan diamalkan: menjaga diri dari kebatilan, serta memusatkan hidup pada hal-hal yang membawa manfaat dan pahala.
Author: Zhivana Asritia, Hafniza Okva Nurhanni, Nadine Tiara Putri, Amelia Pangestuti,Tiara Oktaliadi, Rangga Satria Gumelar Utama, M. Razi Umami, Ferdi Alpinza (MAN 1 MUKOMUKO)