Hidup selalu menawarkan pilihan. Ada yang jelas benar atau salahnya, tapi tidak sedikit yang berada di wilayah abu-abu, menimbulkan keraguan di dalam hati. Dalam kondisi seperti ini, ajaran Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Hasan bin Ali bin Abi Thalib terasa begitu menenangkan: “Tinggalkanlah sesuatu yang meremehkanmu, dan ambillah sesuatu yang tidak meremehkanmu.”
Hadis sederhana ini mengandung pesan mendalam. Ia tidak sekadar mengajarkan kita untuk berhati-hati, tetapi juga menunjukkan jalan menuju ketenteraman hati. Sebab, sesuatu yang jelas dan meyakinkan akan membuat jiwa damai, sementara perkara yang samar-samar hanya melahirkan keresahan.
Sikap hati-hati ini dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah wara . Wara bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan kemampuan untuk menahan diri dari hal-hal yang statusnya belum jelas. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, ketika kabar benar dan kabar bohong bercampur aduk, sikap wara menjadi semakin penting. Kehati-hatian menjaga kita agar tidak mudah terjerumus, baik dalam ucapan maupun tindakan.
Bayangkan ketika seseorang ragu terhadap kehalalan sebuah makanan. Jika ia tetap ragu, keraguan itu akan terus mengganggu batinnya. Tetapi ketika ia memilih makanan yang jelas halal, hatinya akan lebih tenang. Contoh sederhana ini bisa membahas banyak hal lain: pekerjaan, bisnis, bahkan pergaulan. Memilih yang jelas dan berjanji adalah jalan untuk menjaga kehormatan diri sekaligus membangun kepercayaan orang lain.
Manfaat terbesar dari sikap ini adalah ketenangan hati. Seorang Muslim yang terbiasa meninggalkan keraguan tidak lagi disibukkan oleh rasa was-was atau kegelisahan. Hidupnya lebih damai, pikiran lebih jernih, dan langkahnya lebih mantap. Tidak hanya itu, ia juga terhindar dari dosa yang mungkin tersembunyi di balik perkara yang samar-samar.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap meninggalkan yang meremehkan akan melahirkan pribadi yang jujur, hati-hati, dan berintegritas. Bayangkan jika prinsip ini diterapkan secara luas: masyarakat akan jauh dari praktik curang, manipulatif, atau menipu. Yang tumbuh adalah kepercayaan, ketulusan, dan ketenangan bersama.
Pesan hadis ini sesungguhnya sangat universal. Di tengah zaman yang penuh ambiguitas, ia mengingatkan kita untuk tidak terjebak pada keraguan yang melelahkan. Tinggalkan yang samar, pilihlah yang jelas. Dari sana, hati akan lebih damai, hidup lebih bersih, dan perjalanan kita lebih bermakna.
Penulis: Muri Delviska Aini, Qarisa Putri Aqila, Erfa Trya Sabila, Vathan Aprilian, Gifa Fahreza, dan Alfarisi Akbar (MAN 1 Mukomuko)