Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan orang lain, tetangga, teman, rekan kerja, bahkan orang yang baru kita temui di jalan. Islam mengajarkan bahwa hubungan ini tidak boleh hanya didasarkan pada kepentingan sesaat atau keuntungan pribadi, melainkan dibangun atas dasar cinta dan kepedulian yang tulus. Rasulullah SAW , menegaskan hal ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik , pelayan beliau yang setia.
Hadis tersebut berbunyi: Artinya: “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Radhiyallahu Ta'ala 'Anhu , pelayan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , beliau bersabda: 'Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sama ia mencintai dirinya sendiri.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna hadis ini sangat dalam. Al-Qurthubi , seorang ulama tafsir, menjelaskan bahwa persaudaraan karena iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab (keturunan). Persaudaraan nasab dapat terputus jika berbeda agama, tetapi karena iman tetap terjalin melalui keturunan yang berbeda. Al-Hafizh menambahkan bahwa manusia cenderung lebih mengutamakan dirinya sendiri. Maka, ketika seseorang mampu mencintai orang lain seperti dirinya, itu adalah tanda kematangan iman.
Jika kita menarik kenyataan hari ini, pesan hadis ini sangat relevan. Di tengah derasnya arus informasi, kompetisi ekonomi, dan perbedaan pandangan, rasa empati dan solidaritas sering terkikis. Media sosial kadang menjadi ajang saling menjatuhkan, bukan saling menguatkan. Padahal, Islam justru menuntut kita untuk menjadi penolong bagi orang lain, menjaga kehormatan mereka, dan merasakan penderitaan mereka seolah-olah kita sendiri.
Contoh sederhana, ketika ada tetangga yang sakit, kita tidak hanya menyampaikan kabarnya melalui pesan singkat, tetapi juga meluangkan waktu untuk menjenguk. Saat teman mengalami kesulitan finansial, kami membantu sesuai kemampuan, bukan sekadar memberi nasihat. Bahkan terhadap non-Muslim sekalipun, prinsip tolong-menolong dan empati tetap dijaga, karena Islam mengajarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.
Rasulullah ï·º juga menegaskan prinsip ini dalam hadis lain: Artinya: “Perumamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan simpati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh, seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR.Muslim no.2586)
Hadis ini menggambarkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan. Sakitnya satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, ketika satu anggota menderita, semua ikut merasakan dan berusaha meringankan bebannya.
Hikmah yang dapat kita ambil dari ajaran ini adalah terciptanya persatuan dan kesatuan umat, tumbuhnya rasa kasih sayang, serta berkurangnya iri dan dengki. Jika nilai ini dihidupkan kembali dalam interaksi kita sehari-hari, bukan tidak mungkin masyarakat akan menjadi lebih harmonis, saling percaya, dan saling menjaga.
Akhirnya, mencintai sesama muslim seperti mencintai diri sendiri bukanlah sekedar teori indah atau ungkapan manis. Ia adalah tolok ukur iman, sebuah ajakan untuk membangun kehidupan yang lebih damai, penuh empati, dan berlandaskan cinta karena Allah .
Penulis: Ima Trita Willa, Aura Kasih, Alecia Elvina G., Bari Valentino, Alfian Jonesta, M. Qasdi, & Rezka Rizki Fadil ( Siswa & Siswi MAN 1 Mukomuko )