Brain Rot: Saat Otak ‘Membusuk’ karena Kecanduan Konten Digital


Siapa sangka, sepenting organ otak ternyata bisa mengalami pengerasan. Hal ini tidak terjadi begitu saja, namun karena ulah manusia sendiri yang tidak bisa menerapkan pola hidup sehat dan tidak bijak dalam menggunakan smartphone. Istilah “ brain rot ” semakin sering terdengar di kalangan remaja. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan mental atau intelektual akibat konsumsi konten online yang berlebihan dan tidak menantang. Bahkan, Oxford University Press memilih istilah ini sebagai “ Kata Tahun 2024 ” karena dianggap mewakili kekhawatiran yang semakin meningkat tentang dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.



Ketika mendengar kata brain rot , apa yang langsung terlintas di benak kita? Mungkin sebagian dari kita membayangkan otak yang secara harfiah membusuk. Tapi ternyata makna sebenarnya jauh lebih dalam. Menurut para pakar di Oxford, memicu otak adalah penurunan kondisi mental akibat terlalu banyak mengonsumsi materi online yang dianggap sepele dan tidak menantang otak sama sekali. Pada tahun 2024 ini, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tidak hanya penyebabnya, tetapi juga dampaknya. Konten yang kualitasnya rendah dan bernilai rendah banyak tersebar di media sosial, dan konsumsi berlebihan terhadap konten semacam ini dipercaya memberikan dampak negatif bagi individu maupun masyarakat secara luas.

Menariknya, istilah brain rot kini juga digunakan secara spesifik dalam dunia bold, terkadang dengan nada humoris atau menegaskan diri sendiri. Salah satu contohnya adalah konten viral seperti serial Skibidi Toilet karya Alexei Gerasimov. Konten seperti ini memunculkan istilah baru yang disebut “ bahasa pembusuk otak ”. Ya, ini bukan sekadar lelucon. Tanpa kita sadari, fenomena terjadinya otak benar-benar membawa dampak serius terhadap akal dan pikiran remaja.

Fenomena ini memunculkan berbagai gejala, seperti penurunan kemampuan berpikir kritis, mudah bosan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang dulu disukai, hingga ketergantungan terhadap konten yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Apalagi gejala lain seperti depresi, gangguan tidur, dan kesulitan konsentrasi pun bisa muncul. Kalau kita telusuri lebih dalam, semua ini sebenarnya bersumber dari gaya hidup remaja zaman sekarang yang tidak bijak dalam memanfaatkan smartphone, internet, dan media sosial, terutama platform seperti TikTok yang sangat digemari oleh Gen Z dan Gen Alpha .

Apa sih sebenarnya penyebab brain rot itu? Salah satu penyebab utama tentu saja penggunaan media sosial secara berlebihan. Remaja yang terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial akan terus menerus terpapar konten yang justru memicu perasaan minder dan komunikasi sosial yang negatif. Selain itu, budaya menonton video pendek secara terus-menerus juga turut menyumbang peran besar. Aktivitas scrolling yang dilakukan berjam-jam di TikTok, Instagram, dan sejenisnya ternyata menyajikan konten yang menarik perhatian secara instan, namun sayangnya miskin edukasi.

Faktor lainnya adalah berkurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial. Di era digital ini, gaya hidup “ kaum rebahan ” semakin meningkat. Kebanyakan remaja menjadi candu gadget dan lupa pentingnya bergerak serta bersosialisasi secara langsung. Dan jangan lupa soal kualitas tidur. Begadang karena menonton, bermain game, atau melakukan aktivitas lain yang tidak bermanfaat juga menjadi masalah besar yang mempengaruhi kesehatan otak dan mental.

Dampaknya? Sangat merugikan. Harusnya masa remaja adalah waktu emas untuk mengukir masa depan yang gemilang. Tapi malah otaknya "membusuk" karena kejadian buruk yang dijadikan rutinitas. Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mencegah pembusukan otak bukan hal yang mustahil. Diperlukan kesadaran dan perubahan gaya hidup yang sehat. Mulai dari membatasi waktu layar setiap hari, memilih konten yang berkualitas, berisi edukasi dan motivasi, serta memperkuat konten yang berwawasan islami dan mendorong pola berpikir kritis. Jangan lupa untuk tetap aktif secara fisik, berolahraga, dan menjaga interaksi sosial dengan orang sekitar. Jaga juga kualitas tidur, hindari begadang karena hal yang tidak penting, dan jauhkan perangkat elektronik menjelang waktu tidur.

Dari berbagai penjelasan yang saya pelajari, bisa disimpulkan bahwa brain rot bukan istilah medis yang diakui oleh WHO , tapi istilah nonformal yang menggambarkan penurunan kemampuan mental seseorang akibat konsumsi gadget dan konten online yang berlebihan. Meski bukan istilah resmi, dampaknya nyata dan merusak fungsi otak, terutama di kalangan remaja. Dari sini kita belajar untuk menggunakan smartphone dengan profesional, bijak memilih konten, dan menghindari hal-hal yang sia-sia.

serupa dengan Allah SWT yang telah berfirman dalam QS. Al-Ashr ayat 1–3, bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menjadi pengingat kuat betapa pentingnya waktu dan bagaimana kita menggunakannya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari hanya karena tidak mampu mengendalikan diri di dunia digital.

Penulis : Zaskia Afifa Ramadhani (Siswi MAN 1 Mukomuko , Kelas IX.B)

Post a Comment

Previous Post Next Post