(aliarsipliterasiilmiah@gmail.com)
Perkembangan teknologi dewasa ini begitu cepat dan masif. Hampir seluruh lini kehidupan manusia tersentuh olehnya—mulai dari pendidikan, perdagangan, pertanian, hingga transportasi. Hidup menjadi lebih mudah, efisien, dan praktis. Namun, di balik berbagai manfaat itu, terselip persoalan besar yang kerap luput dari perhatian: merosotnya akhlak.
Kita sering melihat orang yang sibuk dengan dunia digital, tetapi abai terhadap budi pekerti. Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan bergelar doktor atau profesor, yang perilakunya jauh dari teladan. Ilmu pengetahuan dikuasai, tetapi tidak diamalkan. Seharusnya mereka menjadi contoh, justru malah memberi citra buruk.
Lebih menyedihkan lagi, degradasi moral juga merambah anak-anak, remaja, mahasiswa, bahkan kalangan pendidik dan tokoh agama. Fenomena anak yang melawan orang tua, siswa yang tidak hormat pada guru, hingga pejabat yang korupsi dan bergaya hidup hedonis menunjukkan lemahnya fondasi akhlak di tengah derasnya arus modernitas.
Padahal, Islam sejak awal menempatkan akhlak sebagai inti ajaran. Allah SWT menegaskan tujuan diutusnya Rasulullah SAW:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107)
Rasulullah SAW sendiri menegaskan dalam hadis:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)
Dua rujukan utama ini cukup untuk menegaskan bahwa pendidikan akhlak bukan sekadar pelengkap, tetapi misi utama kenabian. Rasulullah SAW mencontohkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari: jujur, adil, menjaga silaturahmi, serta menjauhi kezaliman. Beliau mengingatkan bahwa kebohongan menyeret pada keburukan, kezaliman akan menjadi kegelapan di akhirat, dan memutus silaturahmi adalah dosa besar yang menghalangi surga.
Semua pesan ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Apa artinya teknologi yang serba canggih bila manusia kehilangan kejujuran? Apa manfaat gelar tinggi bila tidak diiringi kepedulian sosial? Apa gunanya kemajuan komunikasi bila yang tersebar justru hoaks, ujaran kebencian, dan gosip yang menyakiti orang lain?
Karena itu, pendidikan akhlak harus ditempatkan sebagai pondasi utama, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Teknologi memang terus berkembang, tetapi manusia yang berakhlaklah yang mampu mengendalikannya. Akhlak adalah cahaya yang membuat ilmu pengetahuan menjadi bermanfaat.
Harapan kita sederhana: umat Islam tidak hanya dikenal sebagai umat yang cerdas, tetapi juga umat yang berakhlak mulia. Dengan akhlak, kemajuan teknologi bisa diarahkan untuk kebaikan bersama. Dengan akhlak, ilmu bukan hanya menjadi hafalan, tetapi menjadi amal nyata. Dan dengan akhlak pula, kita bisa mewujudkan misi Rasulullah SAW: menjadi rahmat bagi semesta alam.
Penulis: Bima Rizki Hidayat, S.Ag
Pimpinan Pondok Tahfidz Al-Qur’an, Kab. Agam