Saat Kenyamanan Mengalahkan Kebenaran


Di era informasi yang melimpah ruah seperti saat ini, kita tengah menyaksikan sebuah ironi besar: kebenaran justru semakin tersingkirkan. Di tengah higar-bingar opini publik, gemuruh media sosial, dan riuh rendahnya narasi politik, banyak dari kita—sadar atau tidak—lebih memilih percaya pada apa yang nyaman , bukan pada apa yang benar .

Noam Chomsky pernah berkata, "Manusia tak selalu mencari kebenaran. Mereka mencari kenyamanan, dan siapa yang menguntungkan posisi mereka." Pernyataan ini bukan sekedar kritik intelektual, melainkan cermin penderitaan tentang bagaimana kita, sebagai individu maupun masyarakat, sering menentukan pilihan berdasarkan selera dan rasa nyaman, bukan berdasarkan kebenaran atau kenyataan tujuan.

Padahal, kebenaran sering kali tidak menyenangkan. Ia dapat menggoyahkan sistem nilai yang kita pegang erat selama bertahun-tahun. Ia bisa mengungkap kepentingan yang selama ini kita terima dengan dalih moralitas. Bahkan, kebenaran dapat meruntuhkan status sosial atau kehormatan yang kita bangun dengan susah payah. Tidak mengherankan jika banyak orang memilih menutup telinga ketika kebenaran datang. Cerita yang menenangkan lebih disukai daripada kenyataan yang mengejutkan.

                                  

Fenomena ini kian nyata dalam politik identitas, disinformasi digital, dan opini publik yang sering kali tidak lahir dari data, melainkan dari apa yang terasa benar . Kepentingan kelompok dan ego pribadi lebih mendominasi daripada nurani dan rasionalitas. Inilah kondisi ketika cuplikan yang dikemas rapi menjadi lebih menarik daripada fakta yang pahit.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, sulit bagi nilai-nilai luhur seperti demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan untuk berkembang. Kita akan menjadi masyarakat yang besar dalam jumlah, namun kerdil dalam keberanian moral. Ramai bersuara, tapi sepi makna. Penuh pendapat, tapi miskin tanggung jawab etis.

Di tengah kondisi seperti ini, berdiri di pihak kebenaran—meski tidak populer, meski penuh risiko—adalah bentuk integritas yang paling hakiki. Bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan menjadi manusia seutuhnya. Yakni manusia yang berani berpikir ulang, siap dikoreksi, dan menempatkan nurani di atas kepentingan pragmatis.

Tentu, tulisan ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan kenyamanan atau menolak rasa aman. Namun, ini adalah upaya untuk tidak menjadikan kenyamanan sebagai pelindung kejujuran. Memang benar, hanya dengan keberanian untuk menerima dan menghidupi kebenaranlah, kita dapat membentuk masyarakat yang adil, jujur, dan sehat secara spiritual.

Dalam dunia yang begitu menggoda untuk menipu diri sendiri, memilih menjadi pencari kebenaran adalah sikap yang radikal—tapi justru karena itulah ia sangat dibutuhkan hari ini.

Wa Allahu a'lam.

Author: Dr. Carlres Lenggang Mudo M.pd (Dosen UIN Bukitinggi)

Post a Comment

Previous Post Next Post