Di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin sibuk dan materialistis, masih ada sosok-sosok sederhana yang diam-diam menyalakan cahaya iman di sudut-sudut desa. Mereka bukan tokoh besar yang dikenal masyarakat, bukan juga tokoh yang viral di media sosial. Namun jasa mereka menembus batas waktu. Salah satunya adalah Ustaz Mursali , atau yang akrab disapa Guru Salli oleh murid-muridnya — seorang guru ngaji yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi bangsa.
Masa Muda yang Dihabiskan untuk Menuntut Ilmu
Guru Salli bukanlah orang yang lahir dari kemewahan. Masa mudanya dihabiskan dalam waktu singkat, namun penuh semangat menuntut ilmu. Dari satu ulama ke ulama lain ia berguru, mendalami fikih dari Ustaz Karim , dan memperhalus tajwid serta makharijul huruf dari Ustaz Khairudin .
Dalam suatu kesempatan, dia berkata dengan lirik,
“Dulu, waktu saya muda, hanya dua hal yang jadi prioritas saya: menuntut ilmu dan pergi ke hutan mencari riski. Selain itu, saya menjaga jarak dari perempuan, karena berpacaran bukan hal yang penting dalam hidup.”
Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi di dalamnya tersimpan nilai luhur: kesucian niat dan fokus hidup . Di usia muda yang sering diisi dengan kesenangan, beliau memilih jalan ilmu dan pengabdian — sebuah keputusan yang tak semua orang mampu ambil.
Puluhan Tahun Mengabdi, Tak Lelah Menyemai Cahaya
Sejak awal tahun 1990-an hingga hari ini, lebih dari tiga dekade berlalu, Ustaz Mursali tetap setia mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an di langgar kecil kampungnya. Setiap pegal, terdengar terdengar lantang namun lembut, membimbing lidah-lidah kecil agar fasih melafalkan kalamullah.
Di saat banyak guru lain mulai meninggalkan dunia mengajar karena faktor ekonomi atau usia, beliau tetap teguh. Tak ada kata pensiun bagi seorang pendidik sejati. Kini, mungkin sudah dua puluh generasi murid yang lahir dari tangan. Banyak di antara mereka yang sukses — menjadi guru, ustaz, pegawai, hingga pejabat. Namun satu hal yang tak berubah: mereka semua pernah duduk di hadapan sosok yang sabar ini, belajar huruf demi huruf, ayat demi ayat.
Bertahan Karena Allah, Bukan Karena Dunia
Saat ditanya mengapa masih bertahan mengajar mengajar meskipun secara finansial tidak menjanjikan, dia menjawab dengan jujur:
“Kalau saya mencari uang untuk mengajar Al-Qur'an, pasti tidak cukup. Tapi saya mengajar karena Allah. Karena ibadah.”
Beliau sadar, mengajar mengaji bukan jalan untuk kaya, tapi jalan menuju ridha Allah . Di sela aktivitasnya sebagai petani, ia tetap menyediakan waktu untuk mendidik anak-anak. Katanya lagi,
“Ikhlas karena Allah-lah yang membuat saya bertahan. Kalau berpikir secara ekonomi, sudah lama saya berhenti.”
Betapa dalam kata-kata itu. Di tengah dunia yang sering mengukur semuanya dengan angka dan keuntungan, beliau menunjukkan bahwa nilai sejati sebuah pekerjaan ada pada niat dan manfaatnya , bukan jumlah rupiahnya.
Kegelisahan Seorang Guru
Kini, di usia yang tidak muda lagi, ada satu hal yang kerap membuatnya termenung. Ia khawatir, kelak tak ada lagi generasi yang mau mengajar Al-Qur'an seperti dirinya.
"Sepuluh tahun ke depan, harus ada yang menggantikan saya. Saya takut nanti anak-anak kita tidak pandai lagi membaca Al-Qur'an. Sekarang saja, banyak yang lebih suka main gawai daripada datang ke langgar," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Kegelisahan itu nyata. Di tengah kemajuan teknologi, dunia pendidikan agama sering kali terpinggirkan. Semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadi guru ngaji, apalagi dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup. Padahal, dari tangan guru-guru ngaji inilah lahir generasi yang paham agama dan berakhlak mulia.
Refleksi: Guru Sejati Tidak Pernah Mati
Kisah Ustaz Mursali adalah potret tentang keikhlasan dan keteguhan iman . Ia tidak mengejar pujian, tidak menunggu penghargaan. Ia hanya ingin melihat anak-anak bisa membaca dan mencintai Al-Qur'an. Di balik sorot matanya yang teduh, tersimpan keyakinan bahwa setiap huruf yang diajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan setelah nafas terakhir berhenti.
Mungkin dunia tidak mengenalnya. Tidak ada panggung, tidak ada penghargaan. Tapi di sisi Allah, nama-nama seperti Ustaz Mursali akan selalu dikenang — sebagai pejuang pendidikan yang menyalakan pelita di tengah kegelapannya zaman.
Karena sejatinya, guru sejati tidak pernah mati.
Ilmu mereka hidup dalam hati setiap murid, dalam doa setiap santri, dan dalam setiap ayat yang terus dibaca oleh generasi setelahnya.
Penulis: Muhammad Ali Serami Baru
(Pemerhati pendidikan Islam dan sosial kemasyarakatan)