Pernikahan adalah salah satu peristiwa paling berharga dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar pertemuan dua insan, melainkan juga penyatuan dua keluarga dan awal dari sebuah perjalanan panjang bernama rumah tangga. Dalam Islam, akad nikah dipandang sebagai ibadah sekaligus sunnah Rasulullah SAW yang penuh keberkahan.
Namun, di banyak tempat saat ini, makna sakral itu perlahan terkikis. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ibadah, tetapi berubah menjadi ajang pamer gengsi. Gedung yang megah, ribuan undangan, busana berlapis, riasan mahal, hingga dekorasi yang menyerupai istana, seolah menjadi "standar baru" yang harus dipenuhi.
Sayangnya, di balik senyum manis pengantin dan foto-foto indah yang beredar di media sosial, ada kenyataan pahit yang kerap tersembunyi: tidak sedikit pasangan muda justru harus menanggung hutang sejak hari pertama mereka membangun rumah tangga.
Budaya Gengsi yang Mencekik
Fenomena ini bukan sekedar persoalan gaya hidup, namun sudah menjadi tekanan sosial. Ada rasa malu ketika pesta pernikahan dianggap tidak sebanding dengan pesta orang lain. Ada juga kekhawatiran yang dianggap “tidak mampu” jika tidak mengadakan resepsi mewah.
Padahal, esensi dari pernikahan bukanlah pesta yang hanya bertahan semalam. Ijab qabul—yang merupakan inti pernikahan—hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun, perhatian publik lebih banyak tercurah pada pesta yang glamor, sementara makna sakral dari akad itu sendiri sering terlupakan.
Budaya gengsi ini bisa berdampak serius. Bukan hanya menimbulkan beban finansial, tapi juga berpotensi merusak kebahagiaan pasangan. Bayangkan, rumah tangga baru yang seharusnya dimulai dengan ketenangan, justru terbuka dengan cicilan utang yang menumpuk.
Pernikahan Sederhana Sebagai Solusi
Di tengah situasi tersebut, pilihan menikah sederhana hadir sebagai bentuk kritik sekaligus solusi. Akad nikah di KUA dengan suasana khidmat, tanpa riasan berlebihan, tanpa dekorasi yang hedonis, bukanlah tanda murahan. Sebaliknya, itu merupakan tanda keberanian: keberanian melawan gengsi, keberanian memilih jalan realistis, dan keberanian menatap masa depan dengan lebih sehat.
Sebab, kebahagiaan rumah tangga tidak pernah lahir dari pesta megah. Ia tumbuh dari kesiapan pasangan untuk saling memahami, saling menguatkan, dan saling mendampingi. Pernikahan sederhana justru menempatkan fokus pada inti pernikahan itu sendiri: akad yang sah dan restu kedua orang tua.
Islam sendiri pentingnya pentingnya pernikahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sejujurnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah (biayanya).”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)
Hadits ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak ditentukan oleh seberapa besar biaya yang dikeluarkan, melainkan oleh keikhlasan dan kesungguhan pasangan dalam membangun rumah tangga.
Investasi untuk Masa Depan
Uang ratusan juta rupiah yang dihabiskan hanya untuk satu malam pesta, sejatinya bisa diubah menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat. Sebutlah sebagai modal membeli rumah sederhana, membuka usaha, atau menyiapkan tabungan pendidikan anak.
Banyak contoh pasangan yang lebih memilih konsep sederhana, namun justru mampu memulai kehidupan rumah tangga dengan kondisi finansial yang lebih sehat. Mereka tidak dibebani cicilan, tidak dihantui hutang, dan lebih fokus membangun masa depan bersama.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
(QS. Al-Furqan [25]: 67)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam membela harta, termasuk dalam momen sakral seperti pernikahan. Tidak berlebihan, namun juga tidak kikir. Artinya, wajar jika ada jamuan untuk keluarga dan sahabat, tetapi jangan sampai melampaui batas hingga menimbulkan mudarat.
Mengembalikan Makna Sakral
Pernikahan sejatinya adalah pintu menuju ibadah panjang bernama rumah tangga. Dalam Islam, akad nikah adalah momen di mana seorang suami dan istri saling berjanji untuk hidup bersama dalam ridha Allah.
Jika pesta pernikahan lebih menonjol dibandingkan akad, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan arah. Nilai sakralnya terkikis, ditonjolkan oleh sorotan kamera dan komentar warganet.
Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengembalikan makna pernikahan. Kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan keutamaan. Justru dari sana lahir keberkahan, karena tidak ada beban yang membelenggu sejak awal.
Saatnya Bertanya Jujur
Pada akhirnya, setiap pasangan perlu bertanya pada dirinya sendiri: siapa sebenarnya yang ingin kita bahagiakan dalam pesta pernikahan? Apakah benar untuk diri kita, atau hanya demi memuaskan mata orang lain?
Tidak ada salahnya merayakannya, tetapi jangan sampai pesta semalam menyebabkan kesulitan bertahun-tahun. Pernikahan bukanlah kompetisi, melainkan awal perjalanan ibadah seumur hidup.
Mungkin inilah saatnya kita kembali ke pesan Rasulullah SAW: sederhana itu lebih berkah. Karena sejatinya, keberkahan jauh lebih mahal dibandingkan pesta semalam yang penuh gengsi.
Penulis: Dr. Carles M.Pd.I (Dosen UIN Imam Bonjol Padang)